Langsung ke konten utama

Postingan

Coret-Coret #20 : Jangan tumpuk kesalahan #2

Bab 2: Ketidakterimaan Mengapa begitu sulit bagi kita untuk menerima kenyataan, lalu memilih diam dan mengubur semuanya dalam-dalam? Mungkin kita sudah bisa jujur, sudah tahu bahwa kita melakukan kesalahan. Tapi justru setelah kejujuran itu muncul, yang datang berikutnya adalah penolakan. Penolakan terhadap kenyataan. Penolakan terhadap akibat. Penolakan terhadap rasa bersalah. Kita tidak menerima karena menerima berarti berhadapan dengan luka. Menerima berarti mengakui bahwa kita adalah bagian dari masalah. Bahwa hidup tidak berjalan sesuai rencana—dan mungkin, itu karena kita sendiri yang keliru. Dan itu menyakitkan. Ketidakterimaan sering muncul dalam bentuk yang halus: Kita berkata “aku baik-baik saja” padahal tidak. Kita menyalahkan orang lain karena lebih mudah daripada melihat ke dalam diri. Kita mengatakan “semua ini sudah takdir” padahal kita tahu, ada andil kita di sana. Kadang kita menolak kenyataan karena terlalu ingin kembali ke masa lalu. Kita berharap waktu bisa diputar ...

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan? Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka. Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib. Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanp...

Coret-Coret #17 : Perang atau Egosentris?

 P vs I Latar Belakang Mulai dari bulan Oktober lalu serangan-serangan diluncurkan dan saling berbalas hingga hari ini. Serangan-serangan tersebut membabi buta bahkan sampai ke media sosial. Saya sepertinya tidak perlu menyebutkan identitas kedua negara yang sedang berseteru ini karena topik ini sedang hangat-hangatnya. Jadi gw udah jengah banget sama isu yang bermunculan sehingga gw ngetweet gini. Jujur, gw juga udah kesel banget sama korban-korban yg berjatuhan. Temen-temen gw banyak yang instastory tentang kesedihan mereka kehilangan orang-orang dari kubu seagama, sedangkan kalau dari kubu lawan seagamanya mereka me "mampus-mampus" kan korban Dalam pikiran gw, apa bedanya? mereka sama-sama manusia yang kalo meninggal ada keluarga, teman, kerabat yang bakal kehilangan, bersedih, dan berkabung! Dari situ gw mulai jengah dan mengirim tweet berikut. Diskusi di Tweet Salah satu temen gw ngejawab begini, gw seneng ada yang ngajak diskusi. no hurt feeling ya kalo diskusi sama gw....

Coret-Coret #16 : Patriarki Untuk Lelaki

  Patriarki untuk Laki-laki Saat artikel ini ditulis sedang ramai perbincangan video seorang manager yang melakukan kekerasan kepada anaknya. Belum diketahui pasti penyebab pasti kekerasan itu dilakukan. Tapi saya mencoba membedah ‘ meledak’ nya seorang laki-laki hingga berujung melakukan tindak kekerasan. Seperti yang diketahui seorang laki-laki memang dekat dengan kekerasan sejak kecil anak laki setidaknya pernah melakukan pemukulan maupun dipukul oleh teman sebayanya Kekerasan sudah dekat namun bukan hal yang tidak bisa dikontrol. Hal ini tentu dapat dikontrol dan tentu ada hal yang memantik orang tersebut gagal meredam kekerasan ini. Seperti yang diketahui seorang lelaki pada dunia partriarki dituntut sebagai pemberi nafkah tunggal yang bahkan banyak wanita yang terkesan tidak peduli. “asalkan lelaki itu punya uang dan bisa menghidupi saya, saya akan bersama dengan dia” Namun, tentu tidak semua wanita seperti itu. Kembali ke topik kenapa KDRT bisa terjadi? tentu karena tekanan ...

Bertahan Hidup atau Mati karena memegang prinsip

Halo semua, rasanya sudah lama sekali tidak menulis, hingga kemudian ada suatu peristiwa yang sangat menarik dan juga sedikit menyeramkan. Kejadian tersebut membuat saya berpikir apakah manusia bisa memegang prinsipnya sampai mati atau asalkan gw hidup persetan dengan prinsip. Mungkin secara konseptual kita semua akan berpikir, tentu saya akan memegang prinsip saya sampai mati tidak peduli apa yang akan terjadi bahkan jika itu mengakibatkan kita dibunuh atau terbunuh. Oke jadi untuk menjawab rasa penasaran gw, gw melakukan tweet polling di twitter gw @darus_dc dan mendapatkan 8 votes, yang hasilnya memilih mati sebanyak 25% dan yang memilih hidup 75% Voting ini membuat gw berpikir apakah yang 25% ini benar-benar ingin memilih mati dengan ego mempertahankan prinsipnya? Oke, anggap saja gw menemukan salah satu sampel orang yang menahan prinsipnya dan mendapatkan kematiannya. Kisah nyata, ada di disini :  Oknum PNS Bacok Selingkuhan hingga Tewas di Depan Ayahnya, lalu Bunuh Diri Halam...

Coret-Coret #15 : Sekolah itu relevan!

Sekolah sudah tidak relevan? Masyarakat mulai membicarakan tentang sistem sekolah yang sudah tidak relevan dengan dunia kerja. Dunia kerja yang terus menerus berkembang sedangkan sekolah yang monoton dianggap sudah tidak relevan untuk saat ini. Saya berpendapat lain, sekolah tetap relevan karena sekolah tempat pembentukan pola pikir ilmiah.                 Literasi (kemampuan penyerapan informasi) berawal di sekolah. Kita diajarkan banyak hal untuk dapat mengimplementasikan hal-hal tersebut di dunia nyata yang sebenarnya sangat digunakan. Sekolah tingkat SD sampai dengan SMA memang bukan untuk merelevansikan diri dengan dunia kerja, SMK yang dibentuk untuk relevan dengan dunia kerja lain dengan SMA yang memang masih mengajak muridnya berpikir berbagai kemungkinan yang belum ada. Kemampuan berpikir dan menghubungkan dengan kasus-kasus tertentu merupakan kemampuan yang sulit didapatkan karena dalam teor...

Coret-Coret #14: Patriarki, Perempuan yang masih terbelenggu di dalamnya (21+)

Patriarki Konsep dimana lelaki memiliki peran untuk mengontrol kehidupan sosial manusia. Untuk kalian perempuan yang belum sadar dengan apa yang bisa kalian lakukan di dunia ini. Sebelum membaca lebih jauh, konten tulisan ini bersifat eksplisit. (21+ Content) Mengapa Budaya Patriarki bisa terjadi di kehidupan manusia? Lelaki dirasa lebih unggul dibanding perempuan, padahal faktanya tidak demikian. ada perempuan yang lebih unggul dalam pemikiran, ada perempuan yang lebih unggul dalam ketelitian, ketekunan, dan hasrat. lantas, mengapa selalu lelaki yang menjadi kambing hitam? Perempuan di dunia ini sudah ada yang menjadi presiden, menteri, CEO, dan founder. Namun, mereka masih merasa terbelenggu dengan kata Patriarki. Perempuan seringkali lupa bahwa mereka memiliki kontrol atas diri mereka sendiri, tetapi mereka selalu saja terkontrol oleh lingkungan sosial mereka. Perempuan yang menjadi presiden, menteri, CEO, dsbnya mungkin telah menyadari bahwa mereka memiliki kontrol ...