Langsung ke konten utama

Coret-Coret #15 : Sekolah itu relevan!


Sekolah sudah tidak relevan?


Masyarakat mulai membicarakan tentang sistem sekolah yang sudah tidak relevan dengan dunia kerja. Dunia kerja yang terus menerus berkembang sedangkan sekolah yang monoton dianggap sudah tidak relevan untuk saat ini. Saya berpendapat lain, sekolah tetap relevan karena sekolah tempat pembentukan pola pikir ilmiah.
                Literasi (kemampuan penyerapan informasi) berawal di sekolah. Kita diajarkan banyak hal untuk dapat mengimplementasikan hal-hal tersebut di dunia nyata yang sebenarnya sangat digunakan. Sekolah tingkat SD sampai dengan SMA memang bukan untuk merelevansikan diri dengan dunia kerja, SMK yang dibentuk untuk relevan dengan dunia kerja lain dengan SMA yang memang masih mengajak muridnya berpikir berbagai kemungkinan yang belum ada.
Kemampuan berpikir dan menghubungkan dengan kasus-kasus tertentu merupakan kemampuan yang sulit didapatkan karena dalam teori bloom untuk dapat mengerti, memahami, merasakan. Tahap tersebut siswa dapat menggunakan teori yang ada untuk membuat sesuatu atau bahkan menghasilkan teori baru untuk sampai ke sana perlu tahapan yang benar.
                Melihat kenyataan sekolah saat ini menurut saya bukan sekolah yang sudah tidak relevan lagi namun lebih kepada bagaimana murid melewati tahapan-tahapan dalam memahami dan menggunakan teori tersebut dalam keseharian murid tersebut. Jadi bagaimana membuat murid dalam merelevansi teori yang ada dalam kehidupan, hal ini butuh melewati level kognitif yang kemudian didukung dengan kemampuan psikomotor dan sikap di level yang sama.
                Kognitif tahap pertama adalah remembering atau mengingat, tahap ini seringkali diartikan sebagai menghafal, padahal tahap ini adalah tahap penanaman pemahaman. Tahap ini seharusnya menjadi tahap pemberitahuan, tentang hal apa dan bagaimana seperti kita yang sedang berada di perempatan jalan kemudian kita diberitahu oleh seseorang jika kita ke utara akan menemui monas, kita ke timur akan bertemu patung pancoran, kita ke barat akan bertemu dengan kawasan perkantoran, dan jika ke selatan kita akan bertemu dengan perkampungan indah dengan sawahnya. Kita bisa ingat tersebut tanpa menghafalkan? Jadi ini yang dimaksud mengingat.
                Kasus di atas jika kita membawa diri dalam kemampuan psikomotorik pada level yang sama dengan kemampuan kognitif dengan informasi tersebut seharusnya kita jadi tahu harus kemana dan bagaimana sehingga kita dapat menentukan sikap  dan pada akhirnya menjalankan apa yang sudah kita tentukan. Setelah kita menjalankan pilihan kita kemudian sikap menghayati muncul dan memberikan kita kemampuan kognitif baru dan siklus ini terus berulang hingga muncul semua kemungkinan baru
                Hal ini yang diajari di sekolah, secara teori tentu sekolah sangat relevan dengan hal ini, jika sejak awal kita diajarkan untuk relevan dengan industri maka sama saja dengan kita menghentikan kemungkinan baru yang akan terjadi. Aneh sekali kritik kepada sekolah tidak relevan dengan dunia kerja karena sekolah merupakan tempat untuk berpikir bukan membentuk tenaga kerja yang relevan dengan dunia kerja.
                Sekolah memang dibuat untuk membentuk pola pikir ilmiah yang baik bukan untuk merelevansikan dunia kerja. Sekolah membuat orang-orang dapat berpikir berdasarkan fakta dan data sehingga memunculkan dunia baru yang dianggap orang-orang tidak relevan. Hasil buah pikir seorang murid yang dapat menyamakan level kognitif, psikomotor, dan sikap sehingga ia dapat membuat teori baru, dunia kerja baru, dan kemungkinan-kemungkinan yang belum ada saat ini.

MASIH MAU BILANG SEKOLAH TIDAK LAGI RELEVAN? ATAU TETAP GAGAL DALAM MEMAHAMI?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan? Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka. Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib. Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanp...

Bertahan Hidup atau Mati karena memegang prinsip

Halo semua, rasanya sudah lama sekali tidak menulis, hingga kemudian ada suatu peristiwa yang sangat menarik dan juga sedikit menyeramkan. Kejadian tersebut membuat saya berpikir apakah manusia bisa memegang prinsipnya sampai mati atau asalkan gw hidup persetan dengan prinsip. Mungkin secara konseptual kita semua akan berpikir, tentu saya akan memegang prinsip saya sampai mati tidak peduli apa yang akan terjadi bahkan jika itu mengakibatkan kita dibunuh atau terbunuh. Oke jadi untuk menjawab rasa penasaran gw, gw melakukan tweet polling di twitter gw @darus_dc dan mendapatkan 8 votes, yang hasilnya memilih mati sebanyak 25% dan yang memilih hidup 75% Voting ini membuat gw berpikir apakah yang 25% ini benar-benar ingin memilih mati dengan ego mempertahankan prinsipnya? Oke, anggap saja gw menemukan salah satu sampel orang yang menahan prinsipnya dan mendapatkan kematiannya. Kisah nyata, ada di disini :  Oknum PNS Bacok Selingkuhan hingga Tewas di Depan Ayahnya, lalu Bunuh Diri Halam...

Coret-Coret #12: Paradox Dosa

Apa itu dosa? Dosa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai dua arti yaitu " 1.   perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama " " 2.  perbuatan salah (seperti terhadap orang tua, adat, negara) " kita sering mendengar bahwa dosa sama dengan neraka. Karena ini kita sangat menghindari apa yang namanya dosa, namun menurut pengertian KBBI dosa itu bisa juga diartikan saat melakukan perbuatan salah dalam perspektif yang belum jelas nilai universalnya, misal.  "salah terhadap orang tua, orang tua memiliki nilai-nilai yang sangat relatif . tidak selalu orang tua "A" akan sama dengan orang tua "B" misal dalam hal menikmati makan malam. orang tua "A" mungkin akan marah jika makan malamnya tidak bersama-sama sementara orang tua "B" apabila sudah jamnya makan malam mau bersama-sama atau tidak yasudah makan saja." kedua hukum adat, Indonesia ini sangat beragam adat dan sukunya sehingga sangat...