Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sosial

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan? Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka. Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib. Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanp...

Coret-Coret #14: Patriarki, Perempuan yang masih terbelenggu di dalamnya (21+)

Patriarki Konsep dimana lelaki memiliki peran untuk mengontrol kehidupan sosial manusia. Untuk kalian perempuan yang belum sadar dengan apa yang bisa kalian lakukan di dunia ini. Sebelum membaca lebih jauh, konten tulisan ini bersifat eksplisit. (21+ Content) Mengapa Budaya Patriarki bisa terjadi di kehidupan manusia? Lelaki dirasa lebih unggul dibanding perempuan, padahal faktanya tidak demikian. ada perempuan yang lebih unggul dalam pemikiran, ada perempuan yang lebih unggul dalam ketelitian, ketekunan, dan hasrat. lantas, mengapa selalu lelaki yang menjadi kambing hitam? Perempuan di dunia ini sudah ada yang menjadi presiden, menteri, CEO, dan founder. Namun, mereka masih merasa terbelenggu dengan kata Patriarki. Perempuan seringkali lupa bahwa mereka memiliki kontrol atas diri mereka sendiri, tetapi mereka selalu saja terkontrol oleh lingkungan sosial mereka. Perempuan yang menjadi presiden, menteri, CEO, dsbnya mungkin telah menyadari bahwa mereka memiliki kontrol ...

Coret-coret #13: Bertuhan dan (atau) Beragama

Saya yang hidup di dunia ini sudah mengetahui tentang tuhan, agama, hukum-hukumnya, ketetapannya dan lain sebagainya, seperti seorang believer (pemeluk) agama pada umumnya tentu saya tidak pernah mengetahui kejelasan darimana datangnya tuhan dalam kehidupan manusia, yang saya tahu tuhan itu ada dengan sebutan Allah (karena saya islam) dengan segala aturan dan dogmanya. Seiring berjalannya waktu, saya terus mempertanyakan mengapa bisa ada tuhan di dunia ini, mengapa ada manusia, dan mengapa saya harus hidup dengan paksaan SURGA DAN NERAKA. saya mempertanyakan hal-hal yang mungkin seharusnya tidak pernah saya pertanyakan, namun saya tipikal orang yang harus tau sebab-sebab untuk melakukan sesuatu. Saya sangat percaya hukum sebab-akibat. Saya percaya hukum sebab-akibat maka saya pun percaya apa yang saya lakukan di dunia ini akan dibalas dengan SURGA DAN NERAKA AKAN TETAPI, semakin dalam saya melihat konsep surga dan neraka ini semakin jelas saya melihat ada yang ganjil dalam kon...