Langsung ke konten utama

Coret-coret #13: Bertuhan dan (atau) Beragama

Saya yang hidup di dunia ini sudah mengetahui tentang tuhan, agama, hukum-hukumnya, ketetapannya dan lain sebagainya, seperti seorang believer(pemeluk) agama pada umumnya tentu saya tidak pernah mengetahui kejelasan darimana datangnya tuhan dalam kehidupan manusia, yang saya tahu tuhan itu ada dengan sebutan Allah (karena saya islam) dengan segala aturan dan dogmanya.

Seiring berjalannya waktu, saya terus mempertanyakan mengapa bisa ada tuhan di dunia ini, mengapa ada manusia, dan mengapa saya harus hidup dengan paksaan SURGA DAN NERAKA. saya mempertanyakan hal-hal yang mungkin seharusnya tidak pernah saya pertanyakan, namun saya tipikal orang yang harus tau sebab-sebab untuk melakukan sesuatu. Saya sangat percaya hukum sebab-akibat.

Saya percaya hukum sebab-akibat maka saya pun percaya apa yang saya lakukan di dunia ini akan dibalas dengan SURGA DAN NERAKA AKAN TETAPI, semakin dalam saya melihat konsep surga dan neraka ini semakin jelas saya melihat ada yang ganjil dalam konsep agama ini. semakin luas dan kabur dari konteksnya seperti contoh-contoh sebagai berikut.





Banyak sekali contoh-contoh di atas, agama ini seolah membuat eksklusif suatu kaum dan mendiskriminasi suatu kaum lagi yang mana mereka satu agama, bagaimana bisa terjadi demikian?

saya pernah berdiskusi dengan seorang teman. Ia percaya bahwa kitab suci Al-Qur'an adalah yang terbaik padahal ia tidak pernah sama sekali menyentuh kitab suci agama lainnya, Lantas mengapa ia bisa berkata bahwa Al-Qur'an adalah yang terbaik dan merupakan pelengkap, pengkoreksi dari kitab-kitab suci agama lainnnya? jawaban ia adalah ada ayat dalam Al-Qur'an yang mengatakan bahwa Al-Qur'an merupakan penyempurna kitab-kitab lainnya.

Secara manusiawi ini tidak bisa diterima, saya coba analogikan logika yang seharusnya dipakai untuk menentukan sesuatu itu yang terbaik. "Anda setiap hari hanya memakan nasi, sudah menjadi kebiasaan untuk anda hanya memakan nasi, namun di sisi lain ada orang yang makanan pokoknya adalah tepung, sudah hal biasa bagi mereka untuk memakan tepung, kemudian di satu kesempatan kedua orang yang berbeda ini saing bertemu dan aneh melihat apa yang dimakan satu sama lain. Keduanya biasa hanya melihat orang lain makan makanan yang sejenis, namun kali ini mereka melihat makanan yang dimakan berbeda."

orang yang memakan nasi aneh melihat orang yang memakan tepung. "Padahal hanya tepung bagaimana mungkin ia bisa kenyang" kemudian tanpa mencoba tepung tersebut ia langsung saja berkata bahwa "nasi adalah makanan yang terbaik", namun yang memakan tepung karena mendengar perkataan tersebut ia mencoba nasi dan mengatakan "tidak, tepung masih lebih ada rasanya." kemudian orang yang makan nasipun mencoba tepung kemudian berkata "ya, memang tidak hambar seperti nasi ternyata tepung lebih ada rasanya, namun tidak terlalu mengenyangkan."

Berdasarkan analogi di atas maka jelas untuk menyimpulkan sesuatu harus ada pembuktiannya terlebih dahulu, tidak bisa kita menjustifikasi tanpa melihat kenyataan dan merasakan apa yang terjadi. kembali kepada pernyataan teman saya tadi, karena ada ayat Al-Qur'an yang menyatakan demikian maka ia sebagai umat Islam yang taat tentu percaya tanpa benar-benar membandingkan, namun apakah hal ini bisa dibenarkan?

Mempertanyakan kebenarannya berarti meruntuhkan iman? apakah iya seperti itu? iya memang seperti itu ada dalil dalam QS. An-Nisa Ayat 140.

"Dan sungguh Allooh telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allooh diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allooh akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam."

ayat di atas menerangkan bahwa apabila mendengar ayat-ayat Allah kemudian diingkari, maka kafir dan masuk ke dalam neraka Jahannam. Ya, berarti nanti saya masuk neraka Jahannam. hehe.

Dengan dogma seperti ini maka sangat jelas, pemikiran kritis terhadap agama, khususnya dalam agama islam. (dikarenakan saya belum mengkaji agama lain secara komprehensif.) terpotonglah pemikiran kritis terhadap agama, kita dilarang mengetahui bagaimana tuhan bisa ditemukan dalam sejarah umat manusia, yang hanya kita tahu adalah versi agama masing-masing. (karena saya islam jadi saya lebih banyak membahas secara islam, dan Correct Me If I Wrong).

Sementara menurut para ahli sejarah, agama monoteis atau agama yang mengakui satu tuhan mulai muncul di Mesir pada abad ke 14 sebelum masehi. (Reeve, 2005) bukti itu ditemukan di mesir, raja mesir saat itu menyembah dewa matahari sebagai tuhan satu-satunya. Kepercayaan monoteis ini kemudian berkembang memunculkan agama yahudi kuno (yang belum terlalu monoteis) yang kemudian membentuk kontitusi bernama agama pertama kali. kemudian, seiring munculnya banyak kerajaan-kerajaan, kemunculan agamapun semakin massive.

Dari sedikit sejarah di atas, ternyata agama tidak datang dari awal manusia ada. Menurut pembuktian yang ada agama sendiri hadir pada abad ke 14 sebelum masehi, yang kemudian agama tersebut membentuk suatu konstitusi atau sekarang kita sebut agama. Para sejarahwan yang mencari bukti-bukti konkret dari kemunculan agama ini menilai bahwa monoteis ini terus berkembang dengan semakin banyaknya kerajaan-kerajaan yang tumbuh. Menjadi sebuah anti tesis bagi saya bahwasanya agama merupakan pembawaan tuhan, pertama tuhan muncul saat sudah banyak sekali manusia di muka bumi, kedua agama semakin berkembang dikala kerajaan-kerajaan mulai terbentuk, ketiga manusia bisa berpikir sangat abstrak sehingga diduga bisa saja agama ini dibuat untuk kepentingan peradaban yang mulai terbentuk waktu itu.

Sangat menjadi sangat mencurigakan dikala tuhan meminta bahkan seolah memohon dengan otoriter kepada mahluk yang Dia ciptakan sendiri untuk percaya bahwa Ia ada, harus menyembah Dia, dan apabila tidak mengimani Dia, Tidak menyembah Dia maka saya akan masuk Neraka dibakar, disiksa, bahkan gambaran siksaannya sangat-sangat menakutkan, membuat saya berpikir.

Saya Percaya Tuhan memang maha segalanya, hanya saja aneh dalam agama tuhan begitu dikecilkan. Begitu sangat manusiawi, saya tidak melihat tuhan di Ayat-Ayatnya. sebagai contoh Q.S. An-Nisa (136-137)

(136) “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allooh dan Rosuul-Nya dan kepada kitab yang Allooh turunkan kepada Rosuul-Nya serta kitab yang Allooh turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang KAFIR kepada Allooh, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rosuul- rosuul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.
(137) Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allooh tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

saya melihat di sini Tuhan sangat tidak berkuasa terhadap hati setiap Hambanya. Ia mengatakan orang yang tidak mengimaniNya kafir dan sesat. Ini salah satu contoh dari nilai-nilai Agama sangat mengerdilkan tuhan, lebih seperti kepada wanita yang cinta kepada lelaki, kemudian lelaki itu melirik wanita lain kemudian tertarik dengan wanita lain tersebut kemudian berkata "Kamu telah menutup hatimu untukku. kamu telah tersesat dan kemudian lelaki itu kembali lagi dan begitu lagi, kembali dan bbegitu lagi, kemudian benar-benar sesat." dan Konsep ini benar-benar mirip dengan konsep talak, dimana jika sudah jatuh talak 3 maka haram untuk kembali. kecuali wanita itu menikah dengan yg lain terlebih dahulu.


Saya tidak sedang mencoba untuk menodai agama, saya hanya sedih melihat kenyataan ini.

Saya sedih ketika Tuhan dimaknai sangat kecil oleh agama, digunakan sebagai senjata untuk menjadi alat kontrol sosial dimana multitafsir sekali, seperti contoh wanita berjilbab di atas tadi. Tuhan dijadikan senjata untuk menjauhi orang yang berbeda keyakinan, orang yang berbeda pandangan, dan dijadikan senjata untuk membelenggu setiap pikiran. Bahkan ada Hadis yang melarang menyerupai suatu kaum, sehingga sangat-sangat membuat terjadi konflik horizontal antar manusia.

Tuhan yang dijadikan sebagai senjata menurunkan derajat Tuhan yang Esa, Maha Besar, Maha Kuasa menjadi Mahluk yang Keji, yang sangat Jahat, bahkan terkesan tidak punya kuasa terhadap dunia ini. Sudah sangat sering saya melihat konflik yang terjadi atas nama agama, bahkan ke sesama agampun terjadi konflik. Tuhan dipermainkan dalam agama, Tuhan dibuat menjadi alat untuk mengajak orang-orang mengikuti sebuah instansi yang bernama agama, Tuhan dibuat menjadi private dan banyak jenisnya.

Padahal Tuhan adalah sebuah harapan yang manusia andalkan disaat Ia senang dan sedih, dimana jika seseorang senang Tuhan menjadikan hatinya untuk membagi kesenangan itu secara alami, jika sedang sedih secara alami manusia akan menggantungkan dirinya pada Tuhan yang kemudian Tuhan berikan orang-orang yang akan memperbaiki hatinya.

Tuhan menjadi sangat sempit ketika ditaruh dalam sebuah wadah bernama agama, padahal Ia satu, Ia Esa. ada di dalam hati setiap manusia. Ia yang menjadikan seseorang kafir (menurut agama), Ia yang menjadikan seseorang sebagai inspirasi, Ia yang menjadi seseorang sangat cemerlang, Ia yang menjadikan seseorang berbahagia dalam hidupnya karena Ia membuat semua Orang punya Harapan.

Menurut saya, bertuhan tanpa agama merupakan jalan terbaik untuk bisa memaknai tuhan secara Besar, lebih Besar daripada yang agama gambarkan.

Note: Jangan Baper, lawan tulisan ini dengan tulisan bukan lapor polisi atas penodaan agama. Adu Argumen lebih asik daripada adu perasaan.
Tulisan ini terbit karena keresahan saya terhadap banyaknya pengkafiran dan penerakaan oleh banyak sekali oknum baik terhadap orang lain maupun diri saya sendiri.

Referensi :

Armstrong, Karen (1993). A History of God. Ballatine Books

Blenkinsopp, Joseph (1992). The Pentateuch: An introduction to the first five books of the BibleAnchor Bible Reference Library. New York: Doubleday

Reeves, Nicholas. 2005. Akhenaten: Egypt’s False Prophet. 1. Aufl. London: Thames & Hudson.

Observasi dan pengalaman penulis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan? Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka. Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib. Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanp...

Bertahan Hidup atau Mati karena memegang prinsip

Halo semua, rasanya sudah lama sekali tidak menulis, hingga kemudian ada suatu peristiwa yang sangat menarik dan juga sedikit menyeramkan. Kejadian tersebut membuat saya berpikir apakah manusia bisa memegang prinsipnya sampai mati atau asalkan gw hidup persetan dengan prinsip. Mungkin secara konseptual kita semua akan berpikir, tentu saya akan memegang prinsip saya sampai mati tidak peduli apa yang akan terjadi bahkan jika itu mengakibatkan kita dibunuh atau terbunuh. Oke jadi untuk menjawab rasa penasaran gw, gw melakukan tweet polling di twitter gw @darus_dc dan mendapatkan 8 votes, yang hasilnya memilih mati sebanyak 25% dan yang memilih hidup 75% Voting ini membuat gw berpikir apakah yang 25% ini benar-benar ingin memilih mati dengan ego mempertahankan prinsipnya? Oke, anggap saja gw menemukan salah satu sampel orang yang menahan prinsipnya dan mendapatkan kematiannya. Kisah nyata, ada di disini :  Oknum PNS Bacok Selingkuhan hingga Tewas di Depan Ayahnya, lalu Bunuh Diri Halam...

Coret-Coret #12: Paradox Dosa

Apa itu dosa? Dosa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai dua arti yaitu " 1.   perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama " " 2.  perbuatan salah (seperti terhadap orang tua, adat, negara) " kita sering mendengar bahwa dosa sama dengan neraka. Karena ini kita sangat menghindari apa yang namanya dosa, namun menurut pengertian KBBI dosa itu bisa juga diartikan saat melakukan perbuatan salah dalam perspektif yang belum jelas nilai universalnya, misal.  "salah terhadap orang tua, orang tua memiliki nilai-nilai yang sangat relatif . tidak selalu orang tua "A" akan sama dengan orang tua "B" misal dalam hal menikmati makan malam. orang tua "A" mungkin akan marah jika makan malamnya tidak bersama-sama sementara orang tua "B" apabila sudah jamnya makan malam mau bersama-sama atau tidak yasudah makan saja." kedua hukum adat, Indonesia ini sangat beragam adat dan sukunya sehingga sangat...