Langsung ke konten utama

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur

Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan?

Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka.

Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib.

Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri.
Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanpa kejujuran. Tidak ada kedewasaan tanpa keberanian untuk berkata, "Aku salah."
Mengapa tidak menerima bahwa kita manusia yang bisa keliru, tapi juga bisa belajar? Bahwa kita bukan sempurna, tapi terus diperbaiki oleh kesadaran kita sendiri?
Menerima adalah titik tolak dari sebuah perubahan.

Kita terbentuk dalam budaya yang menghargai keberhasilan, tapi terlalu cepat menghakimi kegagalan. Dalam suasana seperti itu, jujur menjadi tindakan berisiko. Mengakui kesalahan terasa seperti membuka luka di hadapan orang yang mungkin tak akan mengobatinya—bahkan bisa saja menginjaknya lebih dalam.

Padahal, kejujuran adalah langkah pertama menuju pemulihan.

Namun kejujuran tidak hanya soal keberanian. Ia juga soal kasih. Kasih kepada diri sendiri, untuk mengizinkan diri belajar. Kasih kepada orang lain, untuk tidak membiarkan mereka hidup dalam kebohongan yang kita ciptakan.

Ketika kita memilih diam, menyembunyikan, atau membenarkan diri, kita terperangkap dalam ilusi ketidaksalahan. Dan ketidaksalahan itu melahirkan keangkuhan. Kita menjadi orang yang terlalu sibuk membenarkan citra, hingga lupa memperbaiki jiwa.

Maka, pertanyaannya kembali: mengapa tidak menerima?

Menerima bukan berarti menyerah.

Dan kejujuran—betapapun menyakitkan—adalah pintu pertama menuju kebebasan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bertahan Hidup atau Mati karena memegang prinsip

Halo semua, rasanya sudah lama sekali tidak menulis, hingga kemudian ada suatu peristiwa yang sangat menarik dan juga sedikit menyeramkan. Kejadian tersebut membuat saya berpikir apakah manusia bisa memegang prinsipnya sampai mati atau asalkan gw hidup persetan dengan prinsip. Mungkin secara konseptual kita semua akan berpikir, tentu saya akan memegang prinsip saya sampai mati tidak peduli apa yang akan terjadi bahkan jika itu mengakibatkan kita dibunuh atau terbunuh. Oke jadi untuk menjawab rasa penasaran gw, gw melakukan tweet polling di twitter gw @darus_dc dan mendapatkan 8 votes, yang hasilnya memilih mati sebanyak 25% dan yang memilih hidup 75% Voting ini membuat gw berpikir apakah yang 25% ini benar-benar ingin memilih mati dengan ego mempertahankan prinsipnya? Oke, anggap saja gw menemukan salah satu sampel orang yang menahan prinsipnya dan mendapatkan kematiannya. Kisah nyata, ada di disini :  Oknum PNS Bacok Selingkuhan hingga Tewas di Depan Ayahnya, lalu Bunuh Diri Halam...

Coret-Coret #12: Paradox Dosa

Apa itu dosa? Dosa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai dua arti yaitu " 1.   perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama " " 2.  perbuatan salah (seperti terhadap orang tua, adat, negara) " kita sering mendengar bahwa dosa sama dengan neraka. Karena ini kita sangat menghindari apa yang namanya dosa, namun menurut pengertian KBBI dosa itu bisa juga diartikan saat melakukan perbuatan salah dalam perspektif yang belum jelas nilai universalnya, misal.  "salah terhadap orang tua, orang tua memiliki nilai-nilai yang sangat relatif . tidak selalu orang tua "A" akan sama dengan orang tua "B" misal dalam hal menikmati makan malam. orang tua "A" mungkin akan marah jika makan malamnya tidak bersama-sama sementara orang tua "B" apabila sudah jamnya makan malam mau bersama-sama atau tidak yasudah makan saja." kedua hukum adat, Indonesia ini sangat beragam adat dan sukunya sehingga sangat...