Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Coret-Coret #21: Konsep Kepemilikan

 Apa itu memiliki? Pernahkah terbesit dipikiran kita tentang apa itu memiliki? mengapa manusia bisa memiliki konsep kepemilikan? 1. Kebebasan Individu Kita sebagai manusia memiliki kebebasan untuk pergi ke mana saja, melakukan apa saja, namun seiring makin banyaknya jumlah manusia maka konsep kebebasan ini mulai terbatas. Keterbatasan ini sengaja dibuat agar manusia bisa menemukan batasan-batasan tertentu dalam hidupnya agar bisa menjaga interaksi dengan alam. Bayangkan saja jika kita tidak membatasi? minyak dikeruk sampai habis, hutan tidak akan terlihat lagi, dan ya pada akhirnya alam juga lah yang membatasi kebebasan individu manusia. karena keterbatasan itu maka manusia mulai membentuk konsep kepemilikan. 2. Konsep Awal Kepemilikan Manusia awalnya hidup bebas kemana saja (no maden) hingga akhirnya menemukan konsep cocok tanam dan memutuskan untuk hidup menetap. Ini membuka konsep keterbatasan yang alam berikan kepada manusia ternyata masih bisa digeser. Kita masih bisa memprodu...

Coret-Coret #20 : Jangan tumpuk kesalahan #2

Bab 2: Ketidakterimaan Mengapa begitu sulit bagi kita untuk menerima kenyataan, lalu memilih diam dan mengubur semuanya dalam-dalam? Mungkin kita sudah bisa jujur, sudah tahu bahwa kita melakukan kesalahan. Tapi justru setelah kejujuran itu muncul, yang datang berikutnya adalah penolakan. Penolakan terhadap kenyataan. Penolakan terhadap akibat. Penolakan terhadap rasa bersalah. Kita tidak menerima karena menerima berarti berhadapan dengan luka. Menerima berarti mengakui bahwa kita adalah bagian dari masalah. Bahwa hidup tidak berjalan sesuai rencana—dan mungkin, itu karena kita sendiri yang keliru. Dan itu menyakitkan. Ketidakterimaan sering muncul dalam bentuk yang halus: Kita berkata “aku baik-baik saja” padahal tidak. Kita menyalahkan orang lain karena lebih mudah daripada melihat ke dalam diri. Kita mengatakan “semua ini sudah takdir” padahal kita tahu, ada andil kita di sana. Kadang kita menolak kenyataan karena terlalu ingin kembali ke masa lalu. Kita berharap waktu bisa diputar ...

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan? Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka. Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib. Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanp...