Bab 2: Ketidakterimaan
Mengapa begitu sulit bagi kita untuk menerima kenyataan, lalu memilih diam dan mengubur semuanya dalam-dalam?
Mungkin kita sudah bisa jujur, sudah tahu bahwa kita melakukan kesalahan. Tapi justru setelah kejujuran itu muncul, yang datang berikutnya adalah penolakan. Penolakan terhadap kenyataan. Penolakan terhadap akibat. Penolakan terhadap rasa bersalah.
Kita tidak menerima karena menerima berarti berhadapan dengan luka.
Menerima berarti mengakui bahwa kita adalah bagian dari masalah. Bahwa hidup tidak berjalan sesuai rencana—dan mungkin, itu karena kita sendiri yang keliru.
Dan itu menyakitkan.
Ketidakterimaan sering muncul dalam bentuk yang halus:
Kita berkata “aku baik-baik saja” padahal tidak.
Kita menyalahkan orang lain karena lebih mudah daripada melihat ke dalam diri.
Kita mengatakan “semua ini sudah takdir” padahal kita tahu, ada andil kita di sana.
Kadang kita menolak kenyataan karena terlalu ingin kembali ke masa lalu. Kita berharap waktu bisa diputar ulang.
Tapi waktu berjalan satu arah. Dan yang tersisa dari masa lalu hanya dua pilihan: diterima atau terus dilawan dalam diam.
Ketika penyesalan datang, kita berkata:
"Seharusnya aku tidak membiarkan ini terjadi.”
Namun penyesalan tanpa penerimaan hanya akan menjadi racun perlahan. Kita pun tersesat dalam ilusi: berusaha mengubah bubur kembali menjadi nasi. Kita tahu itu mustahil, tapi tetap kita coba—bukan karena harapan, tapi karena belum ikhlas melepaskan.
Ketidakterimaan membawa kita pada pelarian. Kita larikan diri ke hiburan, kesibukan, bahkan spiritualitas yang semu. Kita ucapkan kalimat-kalimat seperti:
"Uang tidak dibawa mati,"
"Memang nasibku seperti ini,"
"Yang penting akhirat."
Kata-kata ini bisa saja benar, tapi jika digunakan untuk menghindar dari tanggung jawab memperbaiki diri, ia hanya menjadi kedok.
Kita tidak benar-benar ikhlas. Kita hanya menolak menghadapi kenyataan.
Ketidakterimaan membuat kita berhenti tumbuh.
Kita tidak lagi belajar, tidak lagi mencoba, tidak lagi jujur pada diri sendiri.
Padahal, satu-satunya jalan keluar dari luka adalah dengan menerimanya.
Bukan untuk menyukai kesalahan itu, tapi agar kita bisa mulai menyembuhkannya.
Jadi, pertanyaannya:
Sampai kapan kita terus menyangkal? Dan kapan kita mulai menerima—lalu memperbaiki?
Komentar
Posting Komentar