Langsung ke konten utama

Coret-Coret #20 : Jangan tumpuk kesalahan #2

Bab 2: Ketidakterimaan

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk menerima kenyataan, lalu memilih diam dan mengubur semuanya dalam-dalam?

Mungkin kita sudah bisa jujur, sudah tahu bahwa kita melakukan kesalahan. Tapi justru setelah kejujuran itu muncul, yang datang berikutnya adalah penolakan. Penolakan terhadap kenyataan. Penolakan terhadap akibat. Penolakan terhadap rasa bersalah.

Kita tidak menerima karena menerima berarti berhadapan dengan luka.

Menerima berarti mengakui bahwa kita adalah bagian dari masalah. Bahwa hidup tidak berjalan sesuai rencana—dan mungkin, itu karena kita sendiri yang keliru.
Dan itu menyakitkan.


Ketidakterimaan sering muncul dalam bentuk yang halus:


Kita berkata “aku baik-baik saja” padahal tidak.
Kita menyalahkan orang lain karena lebih mudah daripada melihat ke dalam diri.
Kita mengatakan “semua ini sudah takdir” padahal kita tahu, ada andil kita di sana.
Kadang kita menolak kenyataan karena terlalu ingin kembali ke masa lalu. Kita berharap waktu bisa diputar ulang.
Tapi waktu berjalan satu arah. Dan yang tersisa dari masa lalu hanya dua pilihan: diterima atau terus dilawan dalam diam.


Ketika penyesalan datang, kita berkata:

"Seharusnya aku tidak membiarkan ini terjadi.”

Namun penyesalan tanpa penerimaan hanya akan menjadi racun perlahan. Kita pun tersesat dalam ilusi: berusaha mengubah bubur kembali menjadi nasi. Kita tahu itu mustahil, tapi tetap kita coba—bukan karena harapan, tapi karena belum ikhlas melepaskan.


Ketidakterimaan membawa kita pada pelarian. Kita larikan diri ke hiburan, kesibukan, bahkan spiritualitas yang semu. Kita ucapkan kalimat-kalimat seperti:
"Uang tidak dibawa mati,"
"Memang nasibku seperti ini,"
"Yang penting akhirat."

Kata-kata ini bisa saja benar, tapi jika digunakan untuk menghindar dari tanggung jawab memperbaiki diri, ia hanya menjadi kedok.

Kita tidak benar-benar ikhlas. Kita hanya menolak menghadapi kenyataan.

Ketidakterimaan membuat kita berhenti tumbuh.

Kita tidak lagi belajar, tidak lagi mencoba, tidak lagi jujur pada diri sendiri.
Padahal, satu-satunya jalan keluar dari luka adalah dengan menerimanya.
Bukan untuk menyukai kesalahan itu, tapi agar kita bisa mulai menyembuhkannya.


Jadi, pertanyaannya:

Sampai kapan kita terus menyangkal? Dan kapan kita mulai menerima—lalu memperbaiki?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan? Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka. Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib. Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanp...

Bertahan Hidup atau Mati karena memegang prinsip

Halo semua, rasanya sudah lama sekali tidak menulis, hingga kemudian ada suatu peristiwa yang sangat menarik dan juga sedikit menyeramkan. Kejadian tersebut membuat saya berpikir apakah manusia bisa memegang prinsipnya sampai mati atau asalkan gw hidup persetan dengan prinsip. Mungkin secara konseptual kita semua akan berpikir, tentu saya akan memegang prinsip saya sampai mati tidak peduli apa yang akan terjadi bahkan jika itu mengakibatkan kita dibunuh atau terbunuh. Oke jadi untuk menjawab rasa penasaran gw, gw melakukan tweet polling di twitter gw @darus_dc dan mendapatkan 8 votes, yang hasilnya memilih mati sebanyak 25% dan yang memilih hidup 75% Voting ini membuat gw berpikir apakah yang 25% ini benar-benar ingin memilih mati dengan ego mempertahankan prinsipnya? Oke, anggap saja gw menemukan salah satu sampel orang yang menahan prinsipnya dan mendapatkan kematiannya. Kisah nyata, ada di disini :  Oknum PNS Bacok Selingkuhan hingga Tewas di Depan Ayahnya, lalu Bunuh Diri Halam...

Coret-Coret #12: Paradox Dosa

Apa itu dosa? Dosa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai dua arti yaitu " 1.   perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama " " 2.  perbuatan salah (seperti terhadap orang tua, adat, negara) " kita sering mendengar bahwa dosa sama dengan neraka. Karena ini kita sangat menghindari apa yang namanya dosa, namun menurut pengertian KBBI dosa itu bisa juga diartikan saat melakukan perbuatan salah dalam perspektif yang belum jelas nilai universalnya, misal.  "salah terhadap orang tua, orang tua memiliki nilai-nilai yang sangat relatif . tidak selalu orang tua "A" akan sama dengan orang tua "B" misal dalam hal menikmati makan malam. orang tua "A" mungkin akan marah jika makan malamnya tidak bersama-sama sementara orang tua "B" apabila sudah jamnya makan malam mau bersama-sama atau tidak yasudah makan saja." kedua hukum adat, Indonesia ini sangat beragam adat dan sukunya sehingga sangat...