Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label refleksi

Coret-Coret #20 : Jangan tumpuk kesalahan #2

Bab 2: Ketidakterimaan Mengapa begitu sulit bagi kita untuk menerima kenyataan, lalu memilih diam dan mengubur semuanya dalam-dalam? Mungkin kita sudah bisa jujur, sudah tahu bahwa kita melakukan kesalahan. Tapi justru setelah kejujuran itu muncul, yang datang berikutnya adalah penolakan. Penolakan terhadap kenyataan. Penolakan terhadap akibat. Penolakan terhadap rasa bersalah. Kita tidak menerima karena menerima berarti berhadapan dengan luka. Menerima berarti mengakui bahwa kita adalah bagian dari masalah. Bahwa hidup tidak berjalan sesuai rencana—dan mungkin, itu karena kita sendiri yang keliru. Dan itu menyakitkan. Ketidakterimaan sering muncul dalam bentuk yang halus: Kita berkata “aku baik-baik saja” padahal tidak. Kita menyalahkan orang lain karena lebih mudah daripada melihat ke dalam diri. Kita mengatakan “semua ini sudah takdir” padahal kita tahu, ada andil kita di sana. Kadang kita menolak kenyataan karena terlalu ingin kembali ke masa lalu. Kita berharap waktu bisa diputar ...