Langsung ke konten utama

Coret-Coret #12: Paradox Dosa

Apa itu dosa?

Dosa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai dua arti yaitu

"1. perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama"

"2. perbuatan salah (seperti terhadap orang tua, adat, negara)"


kita sering mendengar bahwa dosa sama dengan neraka. Karena ini kita sangat menghindari apa yang namanya dosa, namun menurut pengertian KBBI dosa itu bisa juga diartikan saat melakukan perbuatan salah dalam perspektif yang belum jelas nilai universalnya, misal. 

"salah terhadap orang tua, orang tua memiliki nilai-nilai yang sangat relatif. tidak selalu orang tua "A" akan sama dengan orang tua "B" misal dalam hal menikmati makan malam. orang tua "A" mungkin akan marah jika makan malamnya tidak bersama-sama sementara orang tua "B" apabila sudah jamnya makan malam mau bersama-sama atau tidak yasudah makan saja."

kedua hukum adat, Indonesia ini sangat beragam adat dan sukunya sehingga sangat jelas akan terjadi banyak sekali perbedaan nilai yang dianut dan diakui. Sebagai contoh suku "A" memaknai sebuah tradisi seperti wayang merupakan hiburan yang perlu dilaksanakan sementara suku "B" menurut mereka wayang merupakan hal yang tabu karena memainkan peran dalam sebuah boneka.

untuk negara saya tidak akan bahas karena dari 2 contoh di atas menurut saya sudah jelas menggambarkan bahwasanya tidak semua nilai itu sama.

kemudian, bagaimana definisi dosa yang terdapat di KBBI ini dapat berlaku? dengan nilai-nilai yang berbeda bagaimana bisa kita mengatakan bahwa dia berdosa karena melakukan suatu hal yang menurut dirinya itu bukanlah sebuah dosa?

oke, jika nilai yang diciptakan manusia bisa beragam bagaimana dengan hukum tuhan atau agama?

Hukum agama juga bervariasi, bagaimana tidak mari kita lihat jumlah agama di dunia

"There are some 4,300 religions of the world. This is according to Adherents, an independent, non-religiously affiliated organisation that monitors the number and size of the world's religions."
-Dr Stephen Juan 
ada 4.300 agama di Dunia ini, yang berarti sangat memungkinkan untuk sebuah nilai akan berbeda pada setiap keyakinan agama masing-masing. contoh yang paling mudah dipahami adalah perbedaan dalam makan babi, dimana agama islam melarang hal ini sementara agama lainnya ada yang tidak melarangnya. Ini contoh simpel dari berbedaan nilai dalam sebuah agama.

yang berarti nilai-nilai agama juga semu tidak berlaku universal, hanya berlaku bagi penganutnya masing-masing.

lantas, bagaimana dosa terjadi pada "manusia" karena pada dasarnya nilai-nilai ini sangatlah relatif, apakah dosa hanya berlaku bagi penganut nilai-nilai tertentu? ataukan dosa merupakan sesuatu yang khusus (private) karena nilai-nilai yang diakui setiap penganutnya berbeda? Apakah ada nilai universal yang dapat benar-benar menjadi dosa bagi manusia tanpa harus melihat manusia itu dari suatu agama, negara, suku, adat, bahkan manusia itu sendiri.

Apakah Dosa merupakan paradox?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan? Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka. Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib. Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanp...

Bertahan Hidup atau Mati karena memegang prinsip

Halo semua, rasanya sudah lama sekali tidak menulis, hingga kemudian ada suatu peristiwa yang sangat menarik dan juga sedikit menyeramkan. Kejadian tersebut membuat saya berpikir apakah manusia bisa memegang prinsipnya sampai mati atau asalkan gw hidup persetan dengan prinsip. Mungkin secara konseptual kita semua akan berpikir, tentu saya akan memegang prinsip saya sampai mati tidak peduli apa yang akan terjadi bahkan jika itu mengakibatkan kita dibunuh atau terbunuh. Oke jadi untuk menjawab rasa penasaran gw, gw melakukan tweet polling di twitter gw @darus_dc dan mendapatkan 8 votes, yang hasilnya memilih mati sebanyak 25% dan yang memilih hidup 75% Voting ini membuat gw berpikir apakah yang 25% ini benar-benar ingin memilih mati dengan ego mempertahankan prinsipnya? Oke, anggap saja gw menemukan salah satu sampel orang yang menahan prinsipnya dan mendapatkan kematiannya. Kisah nyata, ada di disini :  Oknum PNS Bacok Selingkuhan hingga Tewas di Depan Ayahnya, lalu Bunuh Diri Halam...