Langsung ke konten utama

Bertahan Hidup atau Mati karena memegang prinsip

Halo semua, rasanya sudah lama sekali tidak menulis, hingga kemudian ada suatu peristiwa yang sangat menarik dan juga sedikit menyeramkan. Kejadian tersebut membuat saya berpikir apakah manusia bisa memegang prinsipnya sampai mati atau asalkan gw hidup persetan dengan prinsip.



Mungkin secara konseptual kita semua akan berpikir, tentu saya akan memegang prinsip saya sampai mati tidak peduli apa yang akan terjadi bahkan jika itu mengakibatkan kita dibunuh atau terbunuh. Oke jadi untuk menjawab rasa penasaran gw, gw melakukan tweet polling di twitter gw @darus_dc dan mendapatkan 8 votes, yang hasilnya memilih mati sebanyak 25% dan yang memilih hidup 75%

Voting ini membuat gw berpikir apakah yang 25% ini benar-benar ingin memilih mati dengan ego mempertahankan prinsipnya?

Oke, anggap saja gw menemukan salah satu sampel orang yang menahan prinsipnya dan mendapatkan kematiannya. Kisah nyata, ada di disini : 

Oknum PNS Bacok Selingkuhan hingga Tewas di Depan Ayahnya, lalu Bunuh Diri Halaman all - Kompas.com.

Tak berjilbab, perempuan Somalia dibunuh - BBC News Indonesia

Tragis, Debt Collector Dibunuh Tetangga Gara-gara Ditegur, Korban Menderita 4 Luka Tusukan - Semua Halaman - GridMotor.ID (motorplus-online.com)

Ketiga kasus di atas terjadi karena mereka memiliki prinsip yang mesti ia lakukan.

Kasus pertama:

Seorang perempuan, selingkuhan PNS yang diajak bersetubuh namun enggan mengikuti kemauan dari oknum pembunuh tersebut mungkin saja memiliki prinsip untuk tidak melakukan hal tersebut jika bukan dengan pasangan yang sah. Namun yang terjadi adalah ia tewas di tangan selingkuhannya dan Ayahnya juga terluka akibat kejadian ini.

Mungkin saja si perempuan ini tidak tahu soal bagaimana kondisi pelaku, bagaimana prinsipnya bisa membahayakan dirinya, dan apakah ia akan menolak jika ia mengetahui akan terjadi seperti ini? 

Kasus Kedua:

Dalam kasus ini, wanita yang tidak ingin menggunakan hijabnya dibunuh oleh kelompok tertentu yang sangat ingin menegakkan nilai-nilai kelompok tersebut. Wanita ini hanya ingin menjalankan prinsipnya ia tidak ingin mengenakan hijab, namun hal itu membunuhnya. Padahal sebelumnya sudah sering terjadi pembunuhan karena wanita tidak menggunakan hijab di Somalia, namun wanita ini tetap mempertahankan prinsipnya. Mengapa demikian? padahal ia sudah mengetahui konsekuensinya?

Kasus ketiga:

Seorang Debt Collector dibunuh karena menegur sebuah acara hajatan yang sedang memainkan musik pada dini hari mendekati adzan subuh lazim apabila seseorang meminta untuk menghentikan organ tunggal, sebenarnya ini faktor keyakinan dalam sebuah agama yang mungkin bisa saja tidak diindahkan oleh penganut agama lainnya. Namun, keyakinan ini juga bisa membunuhmu.

Dari ketiga kasus di atas, pembunuhan tersebut seharusnya tidak terjadi namun faktanya itu terjadi. Masih ingat kata-kata yang digunakan oleh orang-orang agar tidak menjadi korban pemerkosaan?

Makanya pakaiannya dijaga, jangan seksi-seksi kalo gak mau diperkosa!

Nah, tidak ingin mengikuti jejak yang sama dengan perkataan tersebut, banyak sekali faktor yang mendorong terjadinya pembunuhan utamanya kontrol diri. Maka dari itu sekarang timbul pertanyaan 

Bagaimana cara kita mengetahui apakah prinsip kita bisa membahayakan kita?

Akan sangat menyeramkan jika salah satu kasus di atas terjadi pada diri kita. Namun sebagai manusia kita bisa belajar, mengapa hal ini bisa terjadi? mungkin bisa berdiskusi dengan kriminolog dan psikolog akan sangat menarik. Agar mengetahui bagaimana cara kita berprinsip secara aman. Bagaimana kita bisa tahu apabila orang ini akan membunuh kita atau tidak? pasti ada ciri dan bagaimana cara mencegahnya.

Jadi gimana teman-teman? jika kalian berada di salah satu kasus sebagai korban, apa yang bakal kamu lakukan?

APAKAH TETAP BERADA PADA PRINSIPMU DAN MATI, ATAU KAMU IKUTI SAJA KEMAUAN MEREKA ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan? Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka. Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib. Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanp...

Coret-Coret #12: Paradox Dosa

Apa itu dosa? Dosa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai dua arti yaitu " 1.   perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama " " 2.  perbuatan salah (seperti terhadap orang tua, adat, negara) " kita sering mendengar bahwa dosa sama dengan neraka. Karena ini kita sangat menghindari apa yang namanya dosa, namun menurut pengertian KBBI dosa itu bisa juga diartikan saat melakukan perbuatan salah dalam perspektif yang belum jelas nilai universalnya, misal.  "salah terhadap orang tua, orang tua memiliki nilai-nilai yang sangat relatif . tidak selalu orang tua "A" akan sama dengan orang tua "B" misal dalam hal menikmati makan malam. orang tua "A" mungkin akan marah jika makan malamnya tidak bersama-sama sementara orang tua "B" apabila sudah jamnya makan malam mau bersama-sama atau tidak yasudah makan saja." kedua hukum adat, Indonesia ini sangat beragam adat dan sukunya sehingga sangat...