Langsung ke konten utama

Coret-Coret #3

Seorang yang mencintaimu. Dia tidak akan muluk-muluk meminta sebuah hubungan. Dia yg mencintaimu hanya ingin kamu selalu dalam keadaan baik, berpenampilan baik untuk umum. Baik bukan berarti berias/mencolok yg malah menarik perhatian orang, hanya baik bukan menarik perhatian.

Seseorang yg mencintaimu secara tulus akan tetap mencintaimu walaupun tanpa status, ia hanya akan mengharapkan kamu menerimanya saat dia memintamu melalui ayahmu.

Dia tidak akan mau kamu terjerumus ke dunia gelap. Dia akan senantiasa membawamu ke dunia yg cerah dan ceria.

Dia yg mencintamu akan selalu ada pada saatnya, jangan harap sesuatu seperti di film-film/sinetron.

Dia yg mencintaimu mungkin memperhatikanmu sebentar. Alih-alih menjaga pandangannya. Karena dia tau, cintanya tidak pantas untuk kamu sebelum kamu dimilikinya.

Dia yg mencintaimu akan datang membawa cintanya yg murni, menawarkan cintanya melalui ayahmu/kakak laki-lakimu.

Jika saatnya tiba, kelak ujilah cintanya. Cinta yang murni kelak membawa keharmonisan dan kebahagiaan. Tidak ada orang ketiga dan seterusnya, hanya ada dia dan kamu.

Jika cintanya murni jangan sekali-kali kamu berikan cintamu yg tercampur. Karena cinta yg murni sukar didapat, jangan kecewakan dia. Dia pantas kamu cintai dengan kemurnian cintamu.

Jangan pernah khianati dia. Harmonislah, bersatulah, dan bentuklah keluarga yg sakinah, mawadah, warohmah.

© 2016, Muhammad Darussalam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coret-Coret #19 : Jangan tumpuk kesalahan

BAB 1: Jujur Apa yang membuat kita takut untuk mengakui kesalahan? Kesalahan bukan sekadar hasil dari keputusan yang keliru. Ia sering kali merupakan buah dari perjalanan panjang, dari akumulasi pengalaman, nilai, dorongan, dan pilihan yang—dalam banyak kasus—tidak sepenuhnya kita sadari. Kita tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk salah. Kesalahan adalah simpang jalan yang kita lewati, terkadang dalam keadaan lelah, bingung, atau terluka. Namun sejak kecil, kita dibiasakan melihat kesalahan sebagai aib. Ketika seorang anak menjatuhkan gelas, ia dimarahi. Ketika nilai ujiannya buruk, ia dibandingkan. Ketika berkata jujur tentang sesuatu yang tidak diharapkan, ia dihukum. Maka tumbuhlah manusia yang mahir menyembunyikan, bukan memperbaiki. Yang terlatih menyalahkan orang lain, bukan bercermin. Yang takut untuk jujur, bahkan pada dirinya sendiri. Dengan mengakui kesalahan, kita tidak menjatuhkan diri—justru kita sedang membangun pondasi untuk bertumbuh. Tidak ada keutuhan tanp...

Bertahan Hidup atau Mati karena memegang prinsip

Halo semua, rasanya sudah lama sekali tidak menulis, hingga kemudian ada suatu peristiwa yang sangat menarik dan juga sedikit menyeramkan. Kejadian tersebut membuat saya berpikir apakah manusia bisa memegang prinsipnya sampai mati atau asalkan gw hidup persetan dengan prinsip. Mungkin secara konseptual kita semua akan berpikir, tentu saya akan memegang prinsip saya sampai mati tidak peduli apa yang akan terjadi bahkan jika itu mengakibatkan kita dibunuh atau terbunuh. Oke jadi untuk menjawab rasa penasaran gw, gw melakukan tweet polling di twitter gw @darus_dc dan mendapatkan 8 votes, yang hasilnya memilih mati sebanyak 25% dan yang memilih hidup 75% Voting ini membuat gw berpikir apakah yang 25% ini benar-benar ingin memilih mati dengan ego mempertahankan prinsipnya? Oke, anggap saja gw menemukan salah satu sampel orang yang menahan prinsipnya dan mendapatkan kematiannya. Kisah nyata, ada di disini :  Oknum PNS Bacok Selingkuhan hingga Tewas di Depan Ayahnya, lalu Bunuh Diri Halam...

Coret-Coret #12: Paradox Dosa

Apa itu dosa? Dosa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai dua arti yaitu " 1.   perbuatan yang melanggar hukum Tuhan atau agama " " 2.  perbuatan salah (seperti terhadap orang tua, adat, negara) " kita sering mendengar bahwa dosa sama dengan neraka. Karena ini kita sangat menghindari apa yang namanya dosa, namun menurut pengertian KBBI dosa itu bisa juga diartikan saat melakukan perbuatan salah dalam perspektif yang belum jelas nilai universalnya, misal.  "salah terhadap orang tua, orang tua memiliki nilai-nilai yang sangat relatif . tidak selalu orang tua "A" akan sama dengan orang tua "B" misal dalam hal menikmati makan malam. orang tua "A" mungkin akan marah jika makan malamnya tidak bersama-sama sementara orang tua "B" apabila sudah jamnya makan malam mau bersama-sama atau tidak yasudah makan saja." kedua hukum adat, Indonesia ini sangat beragam adat dan sukunya sehingga sangat...